Seputar SeputarRangkuman praktis dan ulasan ringan untuk keseharian.
general

Seputar Kebiasaan Baru: Beralih dari WhatsApp ke Discord

Fenomena perpindahan obrolan komunitas dari WhatsApp ke Discord di berbagai daerah, termasuk Kolonodale. Observasi ringan tentang perubahan cara ngobrol online.

29 May 2026 · 2 menit baca · oleh Tegar Anggraini
Seputar Kebiasaan Baru: Beralih dari WhatsApp ke Discord

Saya mulai perhatikan, beberapa bulan terakhir grup WhatsApp di kompleks perumahan mulai sepi. Gantinya, obrolan pindah ke Discord. Bukan cuma anak muda, ibu-ibu RT pun mulai ikut server komunitas. Awalnya saya kira ini cuma tren di kota b'sar, tapi ternyata di Kolonodale juga mulai terasa. Teman-teman yang biasanya saling kirim pesan suara sekarang lebih sering ngumpul di voice channel. Mereka bilang lebih praktis karena bisa bahas banyak topik tanpa tercampur aduk.

Kenapa Discord Mulai Dilirik?

Tentu perubahan ini tidak datang tiba-tiba. WhatsApp dulu jadi andalan, tapi punya batasan yang mulai terasa. Grup dengan puluhan anggota sering kali berantakan—notifikasi bertubi-tubi, topik percakapan mudah tertimbun stiker atau link video. Discord hadir dengan sistem saluran (channel) yang memisahkan topik. Ada channel khusus makanan, channel curhat, hingga channel main game. Setiap anggota bisa memilih ikut saluran yang relevan tanpa terganggu yang lain.

Fitur voice channel juga jadi daya tarik. Di WhatsApp, panggilan suara grup hanya bisa diikuti maksimal delapan orang dan serng terkendala koneksi. Discord menawarkan kualitas suara yang lebih stabil untuk puluhan peserta sekaligus. Ini dimanfaatkan komunitas diskusi buku, klub masak, hingga arisan digital. Saya sendiri ikut server komunitas tanaman hias yang anggotaaya tersebar dari Makassar hingga Palu. Setiap malam minggu, mereka ngobrol langsung sambil saling tunjuk foto tanaman lewat fitur share screen.

Tren ini juga didorong kemudahan akses. Discord kini punya aplikasi mobile yang ringan dan tidak boros baterai. Pendaftarannya sederhana, hanya perlu email dan nama pengguna. Tidak perlu nomor telepon seperti WhatsApp. Banyak orang jadi enggan kembali ke grup WA setelah merasakan kenyamanan Discord. Wikipedia mencatat Discord awalnya untuk komunitas game, sekarang merambah ke berbagai kalangan, termasuk pendidikan dan hobi.

Dari pengalaman saya, perpindahan ke Discord bukan berarti WhatsApp ditinggalkan total. WhatsApp tetap dipakai untuk komunikasi keluarga inti atau urusan kerja yang lebih formal. Namun untuk obrolan santai dan diskusi mendalam, komunitas di Kolonodale lebih memilih Discord. Salah satu tetangga saya bahkan membuat server untuk warga satu RT dan membaginya menjadi saluran informasi, pengumuman, dan curhat. Hasilnya, interaksi warga justru lebih aktif bangeet dibanding saat masih di grup WA Bisa juga lihat seputar murah.

Fenomena ini menunjukkan kebutuhan ruang diskusi terstruktur mulai merata, tidak hanya di kota besar. Perubahan kecil macam ini sering luput dari perhatian, tapi dampaknya cukup besar ke cara kita bersosialisasi. Siapa tahu, beberapa tahun lagi server Discord akan jadi hal biasa di setiap lingkungan, seperti grup WhatsApp sekarang.

Untuk konteks lebih: sumber resmi

Tag: #tren #media sosial #komunitas online #kebiasaan baru